Kepemimpinan Ahok Contoh Buruk Perjalanan Demokrasi Paska Reformasi

Kepemimpinan Ahok Contoh Buruk Perjalanan Demokrasi Paska Reformasi

Ngeri, melihat aksi damai 14 Oktober 2016 kemaren, ratusan ribu massa umat Islam demo menuntut ahok ditangkap dan dipenjara atas kasus penistaan agama dan ulama yang marak dan massif hampir di seluruh daerah di Indonesia.

Syukur Alhamdulillah, di saat bersamaan pihak yang berwenang sangat profesional melalui Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Polisi Boy Rafli Amar memastikan bahwa laporan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tetap di proses oleh Bareskrim mabes Polri.
Selain itu, budayawan sekaligus Penulis dan pemerhati kerukunan umat beragama di Indonesia, Jaya Suprana juga menyampaikan ucapan terima kasih atas aksi ribuan pengunjuk rasa yang berjalan  secara tertib, damai, beradab, dan tanpa kekerasan.
Aksi Tanggal 14 Oktober 2016 beberapa hari yang lalu kembali mengingatkan dan menggugah kita, betapa ambisi, uang dan kekuasaan telah membuat kepemimpinan seorang menjadi begitu sangat arogan.
Tak hanya kali ini saja Ahok memicu kontroversi dan kemarahan rakyat, sebelumnya ada berbagai kasus yang dipicu gaya kepemimpinan Ahok yang brutal, arogan dan menabrak aturan, seperti kasus sengkarut reklamasi teluk Jakarta, kasus penggusuran, kasus pembelian Rumah Sakit Sumber Waras, Kasus Korupsi pengadaan bus Trans Jakarta, kasus pengelolaan anggaran off budget, kasus pembangunan rumah mewah Ahok, proyek Thamrin City dan Waduk Pluit, dsb.
Kepemimpinan Ahok Contoh Buruk Perjalanan Demokrasi Paska Reformasi
Kepemimpinan Ahok Contoh Buruk Perjalanan Demokrasi Paska Reformasi
Kepemimpinan Ahok Contoh Buruk Perjalanan Demokrasi Paska Reformasi

Belum lagi gaya kepemimpinan Ahok yang memicu antipati rakyat; mengumpat dengan kasar, Neo Orba, sok paling benar, memicu SARA dan Rasis, mengkambing hitamkan yang lain ketika muncul persoalan, mengelola teroris sosmed dalam memuluskan manuver politiknya, kejam terhadap rakyat bawah dan takut terhadap pengembang (Anti Rakyat), dsb.
Berbagai kasus menolak perilaku kekuasaan Ahok itu bukan barang basi, fitnah, pembela korupsi, atau kampanye hitam, tapi itu fakta yang sudah suharusnya menjadi catatan rakyat sampai kapanpun, bahwa kepemimpinan itu ada aturannya, ada etikanya dan ada komitmen kemanusiaan yang harus dijaga bersama-sama.
Manuver dan kepemimpinan Ahok menjadi contoh buruk perjalanan Demokrasi di Indonesia, mayoritas  elemen rakyat menentang gaya kepemimpinan Ahok, dari tokoh pluralis hingga ekslusif, tokoh anti korupsi, tokoh nasionalis, tokoh tokoh moderat, tokoh Tionghoa, Agamawan, hingga rakyat jelata, dsb.
Lalu jika sudah demikian, pantaskah Ahok terus dibela dan dibiarkan menjadi pemimpin di negeri ini?

Mitos Dimas Kanjeng Pangeran Ahok

Mitos Dimas Kanjeng Pangeran Ahok


Kasus sumber waras mandek, kasus pengadaan bus scania tak di anggap, kasus reklamasi teluk Jakarta menguap, penggusuran jalan terus, pungli berkedok dana kontribusi jalan terus, kasus penistaan agama tanda-tandanya tutup buku. Gaya arogan dan bicara kasar dipuja, Semua aturan ditabrak sak udele dewe, pelihara teroris sosmed, Dsb.

Rezim Ibukota ini apa sih ya?.. masak iya ini rezim teletubies yang konon dicurigai mengkampanyekan Homoseksual.

Ah!! enggaklah.

Atau mungkin ini rezim Astaroth, Pangeran Bermahkota dari Neraka yang konon memegang ular beracun dan menunggangi naga.

Ah!! sepertinya enggak Juga.

Yang jelas sepertinya ini “Rezim Golok”, Rezim Tumpul Keatas Tajam Kebawah.

Apalagi jika yang berulah sang putra mahkota den bagus dimas kanjeng pangeran Ahok, pasti aman bin lancar, maklum sih, konon dia punya ilmu kebal segalanya, mulai dari kebal hukum sampai kebal muka.

Coba lihat, Mak Nyak saja bertekuk letut di kecohnya, Raja takluk di buainya.

Kalau dulu kerajaan Tiongkok konon yang di takuti cuma kerajaan Majapahit, tapi kini sebaliknya, Arus itu berbalik.

Kalau dulu 18 tahun yang lalu, 1998. Kita semua bergembira dan heroik, saatnya perubahan ekonomi politik bakal terjadi dinegeri ini dan tercipta tatanan  negeri “gemah ripah loh jinawi” dengan raja yang adil dan bijaksana.

Eee… tak taunya momentum itu telah di bajak sang pangeran den bagus dimas kanjeng Ahok menguasai singgasana kerajaan.

Dimas Kanjeng pangeran Ahok telah merebut momentum 98, Ahok telah merebut agenda-agenda reformasi 98, arus berbalik dengan cepat, Neo orba bangkit dibawah panji-panji kekuasaan dan hegemoni Dimas Kanjeng Pangeran Ahok.

Situasi cukup berbahaya dan mengancam kebersamaan berbangsa dan bernegara, sebagai anak cucu Marhaen menjadi keharusan untuk kita merebut kembali panji-panji agenda semangat reformasi 1998 itu.

Perilaku kekuasaan Ahok tak lebih dari sosok  setan kalong pesugihan pencari tumbal yang berbentuk politisi licin yang haus kekuasaan dan menjelma sebagai sosok yang sok bersih dan tegas.

Dengan uang bejibun dan jaringan segelinitir pengusaha ugal-ugalan, Dimas kanjeng Ahok memoles dirinya dan seolah-olah tak dapat di tumbangkan.

Sebagai patriot sejati, kekuatan Ahok itu hanyalah “mitos” belaka, sejarah 32 tahun rezim kekuasaan saja bisa tumbang dengan semangat militansi dan gerakan rakyat, apalagi hanya seorang Ahok, politisi plin plan yang berselingkuh dengan kekuatan hitam yang rakus dan ugal-ugalan pasti akan sangat mudah kita tumbangkan.

Contact Form