![]() |
| Langkah Rizal Ramli Membangun Kedaulatan Maritim |
Oleh: Haris Dwi Purnomo
Kebetulan pagi tadi ada keperluan di kampus Universitas Diponegoro Semarang, pas berangkat sekira pukul 09:00 WIB, lewat depan aula kampus UNDIP gedung prof. Soedarto terlihat pamlet pengumuman ada seminar Nasional memperingati pekan Maritim 2016.
Pengumuman acara seminar itu tercantum nama DR. Rizal Ramli (RR), salah satu ekonom dunia sebagai pembicara. Saya pun tertarik dan ikut masuk menjadi peserta dalam acara seminar tersebut.
Selain sebagai pengidola tokoh Nasional aktivis pergerakan dan pemimpin gerakan anti kebodohan era 78 tersebut, saya juga salah satu orang yang barangkali selalu mengikuti berbagai informasi dan kebijakan yang di buat RR sewaktu menjadi Kepala BULOG era Gusdur sampai menko Kemaritiman di era Jokowi.
Banyak kebijakan dan terobosan RR yang luar biasa dan sejatinya sejalan dengan cita-cita Tri Sakti Sukarno, Agenda Nawacita dan Revolusi Mental Presiden Jokowi.
Sebagaimana prediksi saya sejak awal, RR akan membawakan materi kemaritiman dengan penuh energik, solutif dan optimisme.
Dalam acara seminar itu, RR mengungkapkan betapa apresiatif terhadap kebijakan yang dibuat kementerian KKP, dukungan AL dan berbagai pihak atas kebijakan dan langkah-langkahnya yang dianggap kontroversial selama ini. Karena bagi RR kadang-kadang untuk melakukan perubahan memang butuh shock terapi, karena tanpa tindakan kontroversial, business as usual.
RR sangat sepaham dengan presiden Jokowi, bahwa Poros Maritim itu sangat penting untuk Indonesia, karena Negara kita adalah salah satu Negara Maritim terbesar di dunia, bahkan garis pantainya paling panjang di dunia. “Bagi RR Indonesia harus bisa kuat dilaut, karena siapa yang menguasai laut akan menguasai dunia”.
RR mencontohkan, abad ke-6 Portugal hanya satu juta orang tapi mampu menguasai dunia, karena Portugal menguasai laut hanya dengan kurang dari 100 ribu orang pelautnya. Begitupun juga Spanyol, mereka menguasai dunia. Kemudian abad ke 18-19, British Rule The Sea, British rule The World. Di abad 20 penguasaan dunia beralih ke Amerika karena dipengaruhi kekuatan Maritim Angkatan Laut Amerika di seluruh dunia.
Nah.. untuk abad 21 ini, bagi RR adalah abadnya Asia. Salah satu diantaranya yang semakin kuat dan besar adalah China, kemudian India, dan seharusnya Indonesia, tapi syaratnya kita harus menguasai Maritim.
Sewaktu RR menjabat Menko kemaritiman, salah satu strategi untuk menguasai Maritim dengan membentuk poros Maritim adalah dengan strategi mengajarkan anak-anak muda cinta laut, mereka ribuan pelajar dan mahasiswa diajak keliling laut, walaupun ternyata setelah di survey banyak anak-anak muda, hampir 90% belum pernah naik kapal sama sekali.
RR mencontohkan sekitar satu tahun yang lalu mengirimkan prototipe kapal Majapahit yang sederhana ke Tokyo dengan beberapa awak kapal dan sampai ke Tokyo. Ini membuktikan bahwa pelaut-pelaut kita zaman dahulu hebat-hebat.
Kemudian RR juga mengungkapkan bahwa ingin sekali memanfaatkan sebesar-besarnya SDA laut untuk rakyat dan bangsa kita. Karena selama berpuluh-puluh tahun SDA laut kita dicuri orang-orang asing dengan menggunakan kapal-kapal asing lebih dari 7000 kapal. Dan Alhamdulillah, menteri KKP dengan bantuan AL dan berbagai pihak mampu menghentikan pencurian SDA Laut itu secara besar-besaran.
Kemudian RR menceritakan dalam seminar tersebut, jika sekitar satu tahun yang lalu, RR datang ke Sibolga dan melihat hasil tangkapan ikan nelayan tradisional di sana sudah 400 ton perhari, padahal sebelumnya hanya 200 ton per hari. Kemudian ke Belawan Sumatera Utara RR mendapatkan cerita dari nelayan tradisional jika mereka hanya satu jam sudah bisa membawa tangkapan ikan yang banyak, padahal sebelumnya butuh waktu tiga jam.
Namun demikian, RR mengakui bahwa paska kebijakan illegal fishing ada persoalan kekurangan kapasitas tangkapan ikan, sehingga ada beberapa pihak mendesak agar kembali ke rezim lama, yakni para pemodal besar dan banyak kapal ikan besar asing di biarkan masuk untuk menangkap ikan di perairan Indonesia.
Dalam sidang kabinet beberapa bulan yang lalu, RR menceritakan dalam seminar tadi pagi bahwa kita tidak boleh kembali kerezim lama;
“terjadi kekurangan tangkapan ikan paska kebijakan illegal fishing memang iya, namun bukan berarti kita harus kembali ke kebijakan rezim lama”.
Solusi untuk memenuhi kapasitas tangkapan Ikan itu di tegaskan RR bahwa akan memberikan ratusan izin kapal nelayan Tradisional untuk menangkap ikan di daerah gemuk (banyak Ikan), misalnya memberi izin nelayan tradisional Jawa untuk menangkap Ikan di Natuna, kapal-kapal ikan tradisional di bawah 60 Ton harus bisa bebas menangkap ikan di laut.
Kemudian ketika ada yang berpendapat agar Negara kita bekerjasama dengan Negara-negara besar lain terkait pemenuhan kapasitas tangkapan ikan tersebut, RR kembali menegaskan pada sidang kabinet waktu itu tidak setuju;
“Tidak ada garansi mereka (Negara besar) akan mengakui kedaulatan wilayah laut kita walau kita memberikan kesempatan untuk eksploitasi komersial di laut Natuna, tidak ada jaminan Negara-negara yang mempunyai kepentingan strategis akan menghentikan niatnya untuk semakin atraktif menguasai wilayah laut kita, karena kalau dibiarkan pendekatan komersial itu, makin lama makin banyak nelayan asing yang datang, penetrasi mereka semakin luas, apalagi ternyata mereka bukan nelayan biasa, tapi mereka sebetulnya juga aparat militer atau milisi, wilayah laut RI telah diakui oleh dunia Internasional, PBB, UNCLOS, yang berarti tidak ada negosiasi menyangkut wilayah kedaulatan NKRI”.
RR menceritakan dalam seminar tersebut, jika pemerintah waktu itu kemudian mengambil langkah-langkah penting, khususnya terkait laut Natuna:
Pertama: mendorong industri perikanan dengan salah satunya meningkatkan kapasitas tangkap kapal-kapal ikan kita.
Kedua: Memberi izin kapal-kapal kita dari Pantura yang bobotnya diatas 30 Ton untuk menangkap Ikan di kepulauan Natuna
Ketiga: Bank-bank BUMN agar memfasilitasi pemberian modal kerja bagi perusahaan-perusahaan perkapalan yang betul-betul milik nasional.
Keempat: membuat beberapa kota ikan percontohan di kepulauan Natuna dan Anambas yang dilengkapi cold storage dan fasilitas lainya.
Kemudian RR juga menegaskan untuk mewujudkan poros Maritim tersebut, hal penting lainnya adalah soal konektivitas.
RR menceritakan pengalaman rezim masa lalu di Republik ini, jika sebelum tahun 1980-an setiap kapal penumpang dan kapal kargo yang masuk wilayah Indonesia wajib mampir ke Medan, Tanjung Priok, Surabaya, Makassar dan baru terus ke Utara, namun pada akhir 80-an, rezim waktu itu mengikuti anjuran konsultan Australia untuk melakukan “deregulasi shipping”, kapal Asing dan lokal tidak lagi wajib menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Indonesia barat dan Timur, khususnya Medan dan Makassar. Mereka langsung ke Surabaya dan Jakarta. Pelabuhan di Makassar dan Medan sepi, sementara Surabaya menjadi ibukota Indonesia Timur dari segi bisnis dan perdagangan, Singapura menjadi transhipment utama dan terbesar di Asia Tenggara
Kemudian RR juga menegaskan, jika selama dua tahun ini, pemerintahan Jokowi telah membangun 150 pelabuhan kecil dan sedang, juga membangun belasan pelabuhan udara di Indonesia Timur. Juga membuat jalur poros maritim, ada enam jalur regular shipping ke Indonesia Timur. Satu jalur ke Surabaya, jalur tengah, jalur ke Natuna yang di subsidi, sehingga poros Maritim ini dampaknya sangat positif, salah satunya mengurangi disparitas harga kebutuhan pokok antara Jawa dan Indonesia Timur.
Kemudian RR sebelum mengakhiri pemaparannya dalam seminar tersebut menegaskan dan mengingatkan kembali soal pentingnya pendidikan di bidang Maritim, khususnya dalam pengembangan “vocational training”. RR menilai pelaut kita sangat di sukai di luar negeri, pelaut Indonesia dikenal tidak suka membuat masalah, tidak suka berkelahi dan tidak suka mabuk. Pelaut kita cinta damai.
Akhirnya pemaparan RR yang begitu inspiratif, solutif dan penuh spirit kebangkitan sektor Maritim untuk kedaulatan NKRI dalam seminar tersebut di akhiri, kami sebagai peserta seminar sangat antusias dan bangga, tak salah jika seorang Rizal Ramli adalah asset bagi bangsa ini, keberanian, kecerdasan dan komitmen idiologinya menjaga dan menggerakkan Tri Sakti Sukarno melalui sektor Maritim patut kita apresiasi dan teruskan,
Selamat berjuang pak RR.

